Menyontek kerap dianggap sebagai tindakan curang dalam dunia pendidikan. Namun jika ditelaah lebih jauh, kebiasaan ini bukan hanya masalah moral individu, melainkan refleksi dari sistem pendidikan yang kurang mampu memanusiakan siswa. link alternatif neymar88 Fenomena menyontek yang terus berulang seakan menjadi sinyal bahwa pendekatan belajar dan evaluasi yang diterapkan belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan dan potensi manusiawi peserta didik.
Sistem pendidikan tradisional yang menekankan nilai angka dan ranking sering kali membuat siswa merasa tertekan. Tekanan tersebut mendorong mereka mencari jalan pintas demi lolos atau memperoleh nilai baik, salah satunya melalui menyontek. Dalam konteks ini, “seni menyontek” bukan sekadar masalah pelanggaran aturan, tetapi juga tanda kegagalan sistem dalam membangun lingkungan belajar yang sehat, kreatif, dan menghargai proses.
Menyontek sebagai Respons terhadap Sistem Pendidikan yang Tekanan Tinggi
Seringkali, siswa dihadapkan pada standar penilaian yang ketat dengan target nilai tinggi yang seolah menjadi ukuran utama keberhasilan. Fokus yang berlebihan pada hasil tanpa melihat proses belajar membuat siswa terjebak pada pola belajar instan. Rasa takut gagal dan keinginan memenuhi ekspektasi keluarga, guru, dan lingkungan sosial menciptakan suasana belajar yang sarat kecemasan.
Dalam situasi seperti ini, menyontek bisa dilihat sebagai strategi bertahan hidup. Siswa merasa harus “bertarung” demi nilai, bukan demi memahami materi atau mengembangkan kemampuan kritis. Tentu saja, tindakan ini merugikan integritas akademik, tapi sekaligus menunjukkan betapa sistem pendidikan belum berhasil mengakomodasi dimensi emosional dan psikologis peserta didik secara utuh.
Kurangnya Pendekatan Humanis dalam Pendidikan Formal
Sistem yang terlalu kaku dan seragam membuat siswa sulit menemukan ruang ekspresi diri. Model pembelajaran yang menuntut hafalan dan reproduksi jawaban benar kerap mengabaikan keberagaman gaya belajar dan potensi unik setiap individu. Ketika siswa tidak merasa dihargai sebagai manusia dengan kebutuhan belajar berbeda-beda, mereka cenderung kehilangan motivasi intrinsik.
Kurangnya perhatian terhadap perkembangan karakter, kreativitas, dan soft skills membuat pendidikan lebih berorientasi pada kuantitas materi yang harus dikuasai daripada kualitas pemahaman. Akibatnya, siswa lebih fokus pada “lulus ujian” daripada “belajar untuk hidup,” yang memicu tindakan-tindakan pragmatis seperti menyontek.
Dampak Negatif dan Permasalahan Sistemik dari Kebiasaan Menyontek
Menyontek tidak hanya merugikan secara individu, tapi juga mengganggu keadilan dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Jika praktik ini terus dibiarkan tanpa adanya perubahan sistem, maka generasi penerus berisiko tumbuh dengan pemahaman yang dangkal, sikap tidak jujur, dan minim tanggung jawab.
Lebih dari itu, kebiasaan menyontek menandakan ada celah besar dalam pembinaan karakter dan integritas. Siswa yang terbiasa “mengakali” sistem bukan hanya berpotensi gagal memahami materi, tapi juga menerapkan pola perilaku tidak etis di luar dunia pendidikan.
Mencari Akar Permasalahan: Sistem Pendidikan yang Perlu Diperbaiki
Melihat fenomena menyontek sebagai cermin kegagalan sistem mengarahkan perhatian pada perlunya reformasi pendidikan yang lebih manusiawi. Sistem yang ideal seharusnya menempatkan siswa sebagai subjek belajar, bukan objek penilaian semata. Pendekatan yang holistik dengan mengintegrasikan aspek emosional, sosial, dan kognitif akan mendorong siswa untuk belajar dengan rasa ingin tahu dan tanggung jawab.
Evaluasi yang beragam dan tidak hanya berfokus pada ujian tertulis, penerapan pembelajaran aktif, serta pembentukan budaya kejujuran dan empati menjadi kunci penting. Ketika siswa merasa dihargai dan didukung, potensi perilaku curang seperti menyontek dapat ditekan secara signifikan.
Kesimpulan
“Seni menyontek” bukan sekadar persoalan perilaku siswa, melainkan gambaran kegagalan sistem pendidikan dalam memenuhi kebutuhan manusiawi peserta didik. Tekanan berlebihan pada nilai dan standar seragam tanpa memperhatikan karakter dan kondisi psikologis siswa menciptakan lingkungan belajar yang tidak sehat. Akibatnya, menyontek muncul sebagai bentuk adaptasi yang salah arah.
Agar pendidikan bisa benar-benar membentuk insan yang utuh dan bertanggung jawab, perlu ada pergeseran paradigma menuju sistem yang lebih humanis dan fleksibel. Dengan demikian, praktik menyontek dapat diminimalisir bukan hanya karena aturan yang ketat, tetapi karena siswa sungguh-sungguh termotivasi untuk belajar dan berkembang secara jujur.